Cegah Kanker Serviks dengan Tes IVA Rutin


Tingginya angka penderita kanker serviks (leher rahim) pada perempuan di Indonesia perlu menjadi perhatian besar bagi seluruh elemen masyarakat, khususnya tenaga kesehatan serta kaum perempuan itu sendiri. Penyakit kanker merupakan penyakit tidak menular ketiga yang paling banyak diderita masyarakat Indonesia. Di antara jenis kanker yang ada, kanker payudara dan kanker serviks adalah yang paling banyak diderita oleh perempuan. Jumlah ini terus meningkat seiring berkembangnya zaman sejak 10 tahun terakhir.
Meski teknologi di bidang kesehatan terus berkembang, angka penderita kanker serviks justru meningkat. Hal ini salah satunya disebabkan karena kurangnya kesadaran juga tingkat edukasi masyarakat tentang kanker serviks. Tidak banyak perempuan yang memeriksakan kesehatan alat reproduksinya secara rutin ke puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya.
Penyakit kanker bisa dicegah apabila ditangani sejak dini. Kanker serviks membutuhkan waktu 3-17 tahun untuk aktif. Selama masa tersebut, sel kanker masih bisa dicegah melalui penerapan pola hidup yang sehat dan deteksi sejak dini, salah satunya melalui tes Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA).
Oleh sebab itu, UPT Puskesmas Pagarsih yang dipimpin dr. Deborah Johana Rattu giat mengadakan sosialisasi mengenai kanker serviks dan membuka layanan tes IVA sejak lama setiap hari Rabu dan Sabtu.
“Tes IVA jauh lebih sederhana, cepat, dan lebih terjangkau daripada tes papsmear,” kata Deborah pada kegiatan Bakti Sosial Kesehatan Masyarakat dalam rangka Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari ke-65 di UPT Puskesmas Pagarsih, Selasa (10/10) yang dihadiri juga oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, dr. Rita Verita Sri Hasniarty, MM., M.H.Kes.Sesuai namanya, tes IVA hanya menggunakan asam asetat sebagai alat uji yang diteteskan pada mulut rahim. Dokter akan melihat reaksi yang ditimbulkan pada mulut rahim selama beberapa menit dan mendiagnosa kemungkinan adanya sel kanker di mulut rahim tersebut.
Pemeriksaan melalui tes IVA hanya membutuhkan waktu beberapa menit, berbeda dengan papsmear yang membutuhkan waktu yang lebih lama. Tes ini sebaiknya dilakukan secara rutin setiap 3 tahun sekali bagi perempuan yang sudah pernah melakukan kegiatan seksual atau yang sudah mencapai usia 30 tahun agar kondisi kesehatan reproduksi perempuan dapat terpantau. Selain itu, kaum perempuan, khususnya yang berada di usia produktif perlu mengimbangi tes tersebut dengan selalu menjaga kebersihan daerah kewanitaannya.
Keterangan Foto:Foto bersama Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung (tengah) bersama Ka. UPT Puskesmas Pagarsih (keempat dari kanan), Kepala Bhayangkari Jabar (ketiga dari kiri) dan anggotanya di acara Bakti Sosial Kesehatan Masyarakat, Selasa (10/10).
(Humas Dinas Kesehatan Kota Bandung)