Ratusan Warga Kujangsari Ikut SDJ Filariasis


Ratusan warga RW 02 dan RW 03 Kecamatan Kujangsari berpartisipasi dalam kegiatan Survey Darah Jari (SDJ) Filariasis, Jumat (23/02) malam yang diadakan oleh Seksi Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kota Bandung. Survey dilakukan untuk mengetahui tingkat endemisitas wilayah Kelurahan Batununggal sebagai usaha pendeteksian kasus filariasis lebih dini.
 
Survey dilakukan dengan mengambil sampel darah dari ujung jari pada malam hari sekitar pukul 22.00-02.00 dini hari. Pada waktu tersebut, cacing filaria akan bergerak aktif menuju ujung-ujung jari tangan sehingga cacing lebih mudah diidentifikasi melalui darah yang diambil di ujung jari.
 
Tim P2PM yang turun dalam kegiatan SDJ filariasis kali ini dibantu juga oleh petugas laboratorium kesehatan, kader posryandu, aparatur kewilayahan seperti Sekertaris Camat, Ketua RT/RW setempat, dan satpam.
 
Hasil pemeriksaan SDJ filariasis tidak bisa langsung diketahui di hari yang sama karena sampel darah perlu dianalisis di laboratorium. Hasil pemeriksaan final diperkirakan selesai pada dua bulan berikutnya.
 
“Proses analisisnya memang panjang karena dimulai dari pemeriksaan di Laboratorium Kesehatan Daerah yang ada di Dinkes Kota Bandung, selanjutnya ratusan sampel tersebut diperiksa ulang di Laboratorium Provinsi baru bisa diumumkan kepada warga,” kata Kepala Seksi P2PM Ira Dewi Jani yang turut hadir dalam pelaksanaan survey.
 
Filariasis atau yang umum dikenal dengan penyakit kaki gajah adalah infeksi menahun yang menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, kantong buah zakar, payudara, dan kelamin wanita. Penyakit ini disebabkan oleh cacing filaria yang menular melalui gigitan nyamuk.
 
Gejala penyakit ini pada awalnya ditandai dengan demam berulang 1-2 kali atau lebih setiap bulan dengan durasi 3-5 hari terutama bila melakukan aktivitas berat. Demam tersebut dapat sembuh sendiri tanpa diobati. Selanjutnya, timbul benjolan dan terasa nyeri pada lipatan paha atau ketiak tanpa adanya luka badan.
 
Gejala lainnya adalah adanya urat seperti tali berwarna merah dan sakit dan berjalan dari pangkal paha ke arah ujung kaki atau tangan. Lebih lanjut, terjadi pembesaran yang hilang-timbul pada tangan, kaki, kantong buah zakarm payudara, atau alat kelamin wanita yang lama-kelamaan menjadi cacat menetap.
 
Meski demikian, penderita filariasis pada umumnya tidak menunjukkan gejala sama sekali. Oleh sebab itu, SDJ filariasis perlu dilakukan di daerah endemis atau di daerah yang berpotensi menjadi daerah endemis penyakit tersebut.
 
(Humas Dinas Kesehatan Kota Bandung)