Tekan Angka Stunting, Kader Gizi Bentuk FORKAGI


 
Kader gizi se-Kota Bandung kini memiliki Forum Komunikasi Kader Gizi (FORKAGI) yang telah diresmikan oleh Pejabat sementara (Pjs) Walikota Bandung, M. Solihin, Selasa (22/05) lalu di Aula Poltekkes Kemenkes RI, Jalan Padjadjaran Bandung. Forum ini terdiri atas para kader gizi se-Kota Bandung, tenaga pelaksana program gizi puskesmas, serta perwakilan lintas program dan lintas sektor terkait.
 
Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat menyebutkan bahwa Kota Bandung masuk dalam zona kuning untuk kota yang warganya mengalami kekurangan gizi. Hal ini menyebabkan warga Kota Bandung mengalami stunting atau pertumbuhan yang terbatas akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Terkait hal tersebut, para kader gizi yang ikut dalam pertemuan gizi pada Desember tahun 2017 lalu berinisiasi membentuk FORKAGI yang salah satunya bertujuan untuk menurunkan angka stunting dan secara umum memperbaiki kondisi gizi warga Kota Bandung.
 
“Kondisi gizi kronis (stunting) di Kota Bandung ada di angka 25,8% maka kita harus lebih memperhatikan kondisi ini. Kami sangat mengapresiasi baik adanya wadah ini karena dapat bekerja sama dengan kami untuk menanggulangi status gizi di Kota Bandung dan membantu program pemerintah,” kata Kepala Dinkes Kota Bandung, Rita Verita.
 
Pemerintah melalui Dinkes Kota Bandung secara konsisten sudah melakukan upaya untuk meningkatkan kualitas gizi warganya, di antaranya pemberian vitamin A untuk bayi dan balita, pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri dan ibu hamil, pemberian makanan tambahan untuk balita kurus, dan ibu hamil yang kekurangan energi dan kalori. Meski demikian, tingkat stunting di Kota Bandung masih tergolong tinggi. Oleh sebab itu, perlu dukungan para kader gizi untuk mengajak dan mengedukasi warga agar makan makanan yang memenuhi asupan gizi sehari-hari.
 
“Kami berharap agar forum ini tidak hanya dibentuk lalu diam, tapi terus bergerak bersama-sama supaya bisa mencegah anak-anak kita terkena stunting sehingga bisa menjadi generasi penerus bagi bangsa ini,” tambah Rita.
 
Hal senada juga diutarakan M. Solihin yang pada pidatonya dalam membuka sekaligus mengukuhkan struktur kepengurusan FORKAGI Kota Bandung. Solihin menilai bahwa forum seperti ini harus diapresiasi oleh semua pihak, terutama oleh pemerintah. Ia juga menyebutkan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menganggap FORKAGI sebagai mitra serta mendukung aktivitasnya.
 
“Perbaikan gizi di masyarakat tidak lepas dari peran warga. Orang yang menjadi kader kesehatan ia juga menjadi promotor kesehatan. Mereka adalah bagian dari pembangunan nasional,” kata Solihin.
 
Solihin menjelaskan Pemkot Bandung memiliki keterbatasan untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Oleh sebab itu, FORKAGI bisa menjadi perpanjangan tangan program pemerintah dalam memperbaiki status gizi warga Kota Bandung.
 
“Kami sangat mengandalkan apa yang dilakukan para kader. Tidak hanya kader gizi, tapi juga kader PKK, dharma wanita, dan berbagai kader organisasi yang membantu masyarakat,” pungkasnya.
 
(Humas Dinas Kesehatan Kota Bandung)