UPT P2KT Kota Bandung Jadi Finalis 5 Besar IndoHCF Innovation Award III tahun 2019


UPT Pusat Pelayanan Keselamatan Terpadu (P2KT) Dinas Kesehatan Kota Bandung atau yang umum dikenal dengan Public Safety Center 119 (PSC 119) menjadi finalis 5 besar inovasi kesehatan pada kategori Sistem Penanganan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) dari Indonesia Health Care Forum (IndoHCF) Innovation Award III tahun 2019. Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Rita Verita pada Penilaian Seleksi Final IndoHCF Innovation Award III di Pendopo Kota Bandung, Senin (21/10/2019).

“Kota Bandung menjadi finalis 5 besar inovasi SPGDT terbaik se-Indonesia dan hari ini akan dilakukan penilaian akhir berupa wawancara pimpinan daerah dan tinjauan lapangan,” jelas Rita.

IndoHCF Innovation Award adalah ajang penghargaan dan apresiasi di bidang kesehatan bagi inovator-inovator kesehatan yang dimulai sejak 2017 lalu.

Tahun ini, UPT P2KT Kota Bandung akan bersaing dengan Kota Cirebon, Bangka, Bantul, dan Tulungagung dengan memunculkan inovasi Bandung Emergency System Quality Innovation (BESQUIT) yang terdiri atas tiga inovasi, yakni Bandung Emergency Application Support (BEAS), Bandung Emergency Tourism Support (BETS), dan Bandung Medical Bike (BEMBI).

Lebih lanjut, Rita menjelaskan jumlah layanan SPGDT melalui PSC 119 dari tahun 2017 semua naik. Oleh sebab itu, PSC 119 berupaya menciptakan inovasi di bidang SPGDT agar dapat menjangkau masyarakat lebih luas dan lebih efektif.

“Kami punya inovasi BETS yang di dalamnya petugas PSC 119 memberikan pelatihan penanganan emergensi bagi pelaku pariwisata, seperti petugas hotel dan apartemen jika sewaktu-waktu menemukan turis yang memerlukan penanganan gawat darurat kesehatan. Selain itu kita juga punya BEMBI yang mempermudah penanganan emergensi di tempat-tempat yang sulit dimasuki kendaraan bermotor, contohnya di car free day atau acara sejenisnya,” jelas Rita.

Inovasi SPGDT itu juga didukung penuh oleh Wali Kota Bandung, Oded M. Danial. Oded menyebutkan pemerintah Kota Bandung menaruh perhatian yang besar di bidang kesehatan.

“Anggaran kesehatan Kota Bandung, yang harusnya 10% sesuai amanat undang-undang, kami anggarkan 25,75%. Itupun kami rasa masih merasa kurang,” jelas Oded.

Hal ini ditanggapi positif oleh Ketua Tim Penilai Seleksi Final IndoHCF Innovation Award III, Supriyantoro. Ia mengapresiasi komitmen Wali Kota Bandung yang sudah mendukung program SPGDT dengan dana yang cukup besar dibanding daerah lainnya.

“Hal yang unik di Kota Bandung adalah perhatiannya terkait keselamatan turis melalui inovasi BETS. Saya yakin Kota Bandung bisa menjadi percontohan bagi daerah lain khususnya untuk bidang SPGDT,” tambahnya.

(Humas Dinas Kesehatan Kota Bandung